Lirik Best Luck-Chen Ost. It's Okay, It's Love


Ini salah satu lagu favoritku di drama It's Okay, It's Love ^^ . Ini juga lagu debut Chen EXO dalam Kdrama dan suaranya euh, merdu sekali. Pertama mendengarnya saja aku langsung suke hehe... dan ini lirik lagu + translate b.inggrisnya ... Cekidot <3 :))

Romanized:

Amuraedo nan niga joha
 Amureon maldo eobsi utdeon nareul anajwo babe
 Oneureul gidaryeotjyo
 Geudae dalkomhan nareul bwayo geudae ye
 Jikyeojulgeyo babe
 Maeil maeil kkumeul kkujyo
 Geudae soneul japgo naraga yeongwonhi eonje kkajina

Bogo sipeun naui sarang unmyeong ijyo
 Pihalsudo eobtjyo
 Every day i’m so lucky
 Sumgyeowatdeon nae mameul gobaek hallae neoreul saranghae

Tteollideon nae ipsuldo geudae seolledeon i maeumdo
 Geudae nae sarangijyo babe
 Ireonge sarang ingeol aljyo
 Geudaega isseo haengbok hajyo ye sarangiyeyo babe
 Maeil maeil kkumeul kkujyo
 Geudae soneul japgo naraga yeongwonhi eonje kkajina

Bogo sipeun naui sarang unmyeongijyo
 Pihalsudo eobtjyo
 Every day i’m so lucky
 Sumgyeowatdeon nae mameul gobaek hallae neoreul saranghae
Category: , , 0 komentar

GUILTY


Bersalah. Guilty. Satu kata yang bisa menggambarkan perasaanku saat ini. Aku merasa bersalah sekali akhir-akhir ini. Entahlah, aku tak tahu apa yang sudah kuperbuat. Hanya saja persaan itu muncul begitu saja dan membuat hilang seluruh plan yang tlah kubuat nanti. Kalau diingat, aku merasa bersalah kepada banyak orang. Tak sedikit orang yang tak aku tlah kulukai, menurutku. Mulai dari tetangga, teman, guru atau dosen bahkan saudara sendiri! Akh, ada apa dengan diriku sekarang? Aku bingung. Sebenarnya aku sudah meminta maaf kepada saudaraku akan hal sudah aku perbuat padanya. Tapi anehnya, ia cemberut dan menatapku heran. Sedangkan temanku hanya menatapku sekilas saja. aku tak tahu apa dia tak mendengar ucapan maafku atau dia mendengarnya tapi  berpura-pura seolah tak terjadi apa-apa atau ada hal lain yang sedang dipikirkannya.  
            Aku tak mengerti. Pikiranku tak tenang. Aku  tak bisa lakukan hal apapun sekarang. Kalau dipikir-pikir aku akui aku sudah melakukan sebisaku walau tak maksimal, tapi setidaknya aku sudah berusaha. Aku tahu kalau usahaku belum cukup bahkan masih jauh dari yang diharapkan. Sekali lagi aku dirudung masalah yang tak jelas. Tak jelas darimana aku mulai berpikir dan merasa seperti ini hingga tak tahu bahkan tak jelas bagaimana aku bisa melewati masalah ini. Yang pasti. Aku rasa aku hanya perlu menulis unek-unekku, pikiran dan mengosongkan isi otakku. Aku bukan pemikir. Bahkan pencetus ide yang baru. Aneh memang mengingat aku hanya seorang pelajar biasa yang terlalu banyak berpikir atau pikiran. Sudah banyak yang berkata atau menasihatku kalau aku harus santai. Jangan tegang. Rileks. Bahkan aku kembali ingat kalau akhir-akhir ini aku juga menjadi sering pelupa. Aku pernah lupa tentang apa yang mau aku katakan kepada saudaraku, dan hal itu terjadi hanya dalam waktu sedetik. Bayangkan! Waktu sedetik saja aku bisa lupa. Tampak seperti aku sedang mengidap depresi akut bukan.

POLISI JUGA MANUSIA (Cerpen)


Aku teringat akan masa dimana pertama kalinya aku mengendarai motor di jalan raya. Pada awalnya semua berjalan baik-baik saja hingga suatu hari ketika ada operasi di jalan raya aku bingung harus berbuat apa karena waktu itu adalah waktu dimana aku berangkat ke sekolah. Aku ingat kalau aku belum mempunyai SIM. Aku pun memberhentikan motorku dan berusaha serileks mungkin agar tidak terlihat mencurigakan di depan mereka yang berseragam hijau. Aku benar-benar nervous kala itu karena aku akui kalau aku memang salah. Aku tahu kalau sebagai warga Negara yang baik aku harus mematuhi setiap peraturan atau norma hukum yang ada. Sebagai contoh, seorang pengendara yang baik itu selain mematuhi peraturan lalu lintas yang ada, harusnya juga memenuhi syarat dan perlengkapan berkendara. Salah satunya adalah dengan memiliki SIM. Untungnya ketika giliranku tiba, polisi tadi bertanya dengan suara lantang dan keras, “Punya SIM?”. Aku pun langsung menjawab, “Punya, pak”.
Waktu itu aku hanya menyodorkan STNK saja dan beliau kembali bertanya, “SIM nya ada?”. “Ada pak”, jawabku dengan tegas. Aku pun menggerakkan tanganku untuk kembali membuka tas. Ketika aku tengah asyik membuka tas tanpa tahu apa yang sedang kucari tiba-tiba pak polisi tadi mempersilahkan aku untuk maju dengan menyerahkan kembali STNK kepadaku. Alisku sempat bertemu dan berkata dalam hati.  Apa benar ini sudah tidak apa-apa? Apa benar sudah boleh lanjut?, Batinku. Aku pun kembali memasukkan STNK ku ke dalam dompet dan tas setelah memajukan motorku. Dengan kaki yang masih gemetaran aku memperhatikan sekelilingku dan benar itu adalah tempat dimana pengendara yang sudah diperbolehkan melanjutkan perjalanan. Mereka yang berseragam hijau benar-benar sudah berada dibelakangku. aku tak percaya kala itu bahwa aku benar-benar telah melewati mereka!

MENULIS CERITA


Menulis. Satu kata sederhana tapi mampu membuatku pusing tujuh keliling. Why? Kenapa? Bukankah menulis itu mudah? Kan tinggal tulis saja apa yang sedang kamu pikirkan, kerjakan, tak ada tip dan gratis pula. Mungkin itu kata-kata yang terucap oleh sebagian orang yang menjawab pertanyaan diatas. Well, mungkin itu ada benarnya juga. tapi bagiku, orang yang tidak pernah punya pengalaman tulis-menulis cerita atau sharing pengalaman dengan teman minimal itu agak membebani pikiranku. Bisa dibilang aku ini adalah seorang pendengar yang baik. Tak sedikit teman yang curhat atau berbagi pikiran dan pengalaman bahagia, sedih, buntu, tak ada ide bahkan butuh inspirasi datang kepadaku. Sebagai seorang teman yang baik, bolehlah aku membantu mereka atau sekedar memberi komentar atau solusi yang ada berdasarkan sudut pandangku. Dan mereka senang atau puas? Entahlah, aku tak bisa tahu apa yang mereka pikirkan tentang perkataan yang sudah aku lontarkan kepada temanku. Tapi setelah selesai masalah pertama, di lain waktu dan kesempatan salah satu dari mereka datang kembali kepadaku. Menumpahkan segala unek-unek dan problem yang sedang mereka hadapi. Yah, itulah sekelumit aktivitasku selama berada di lingkungan sekolahku dulu. Bisa jadi itu mungkin satu alasan yang membuatku sulit untuk menuangkan apa yanga ada di pikiranku. Tak semudah apa yang dikatakan orang memang. Kelihatannya, aku hanya bisa memberi jalan keluar kepada orang lain. Tapi pada diriku sendiri aku merasa kesulitan. Aku tidak seperti mereka yang bisa terbuka dengan orang dengan mudah. Aku mungkin bisa berpikir dua kali untuk memutuskan membicarakan hal-hal yang bersifat privasi. Memang benar aku kesulitan menuangkan ide dalam bentuk tulisan tapi aku biasanya menghibur dirikudengan mencoret-coret kertas yang ada. Tak sedikit juga cerita yang muncul itu hilang bagai angin yang bertiup sepoi di luar rumah. Aku menghilangkan isi cerita atau unek-uek yang menggangguku. Penutup.

AKU DAN BAYANGANKU (Cerpen)



Aku mempunyai bayangan yang hidup. Dia adalah kakakku. Dia pintar dan pandai dalam segala hal, menurutku. Kami bersaudara ‘kembar’. Hidup kami seakan tak terpisahkan sejak kecil. Bayangkan! sejak kami TK hingga menempuh pendidikan sekolah menengah atas, kami selalu berada di sekolah yang sama. Semua orang tahu bahwa dia adalah kakakku. Bahkan karyawan sekolah seperti tukang kebun, petugas kebersihan dan pak satpam mengenal dia. Karena kami berada di sekolah yang sama, kami selalu bersaing untuk menjadi yang terbaik. Sejak SD misalnya, ketika dia berada di peringkat tiga sebagai murid terbaik dari the best ten seangkatanku, aku berada di tingkat lima. Ada seseorang pastinya yang menjadi penghalang diantara kami yaitu seorang teman yang berada di peringkat empat. Ketika kami mengikuti tes ujian masuk Madrasah Tsanawiyah atau SMP, dia masuk dan berada di peringkat tiga terbaik dan aku di urutan kelima. Lagi-lagi ada penghalang diantara kami. Untungnya, kami selalu berada di kelas yang berbeda. Menurutku, aku tak bisa bayangkan kalau aku dan kakakku berada dalam kelas yang sama.

Jawa Pos versus The Times

                                                                                                                                    PAPER TASK        


Newspaper is one of mass media that still exists in this digital era. Each country around the world already has this kind of mass media whether it is accounted as a famous newspaper or not. The news inside is always actual, up to date and trusted by many people.
Nowadays, Indonesian and British newspaper business are growth rapidly. We can see that there is a variety of newspaper that has published in Indonesia and Britain such as Surya, Jakarta Post, Radar Surabaya, Kompas, Jawa Pos, The Times, The Guardian, The Daily News, Telegraph and many others. There are some factors comparing Jawa pos as an Indonesian newspaper and The Times as a British newspaper. At first, Both Jawa Pos and The Times are accounted as a famous and most influential daily newspaper in their country. Besides, The Times is accounted as one of Britain’s big three newspaper together with the Guardian and The Daily Telegraph, while, Jawa Pos has his big competitor in Indonesia that is Kompas newspaper. Moreover, Jawa Pos and The Times are the oldest newspaper in their country too. In spite of that fact, The Times is the originator of the widely used Times News Roman typeface and it was originally developed by Stanley Morison, a British historian printing.
The Times was founded by John Walter on the first January in 1785, as The Daily Universal Register and became The Times on January 1, 1788, whereas Jawa Pos was established by Susueno Tedjo or The Chung Shen in the first of July in 1949, as Djava-Post. We can see that The Times was gone earlier before Jawa Pos.
The Chung Shen was a movie ads employee in one of Movie Theater in Surabaya. He had to advertise a movie in newspaper every day, so that she became interested in making her own newspaper. After Jawa Pos became successful; she established another newspaper that is Hwa Chiao Shen, a mandarin newspaper, and de Vrije Pers, a Dutch newspaper.  The Chung Shen business was not going smoothly all the time. In the end of 1970s, her income was falling away sharply. Her previous newspaper was already retired. So that, The Chung Shen decided to market Jawa Pos to the director of Tempo magazine. Besides, three of her son and daughter decided to live in London, England and they didn’t want to continue her mother’s business.

The Lost Symbol- Dan Brown- Review dan Sinopsis

                               



Cerita ini diawali dengan seorang tokoh Profesor bernama Prof. Langdon. Ia menjadi dosen disebuah perguruan tinggi swasta di Washington DC. Prof. Langdon sangat ahli dalam kode atau sandi kuno (kriptografi). Ia juga seorang ahli filsafat dan sejarah peradaban kuno. Ia percaya bahwa hingga detik ini atau sekarang ada sebuah perkumpulan persaudaraan gelap terbesar di dunia bernama Mason, yang konon itu hanyalah ada dalam sejarah. Menurut ilmu yang ia pelajari, banyak juga tokoh terkemuka dan bahkan tokoh pendiri Amerika yang masuk sebagai anggota dalam perkumpulan persaudaraan bernama Mason itu. Bahkan tak sedikit pula dari mereka yang telah mencapai derajat tinggi di dalamnya alias telah mendapat pencerahan yang terbukti dengan penemuan mereka yang mengubah dunia sampai sekarang, beberapa diantaranya adalah Sir Isaac Newton yang terkenal dengan teori gravitasinya, Benjamin Franklin yang merupakan salah satu pendiri Amerika dan lain sebagainya.

Langdon mempunyai seorang sahabat bernama Peter Solomon. Keluarga Peter termasuk keluarga kalangan atas atau pejabat di Amerika dan Peter Solomon sendiri memiliki derajat paling tinggi pada perkumpulan persaudaraan Mason itu.
Perkumpulan tersebut mempunyai ciri-ciri yang khas pertanda bahwa orang tersebut merupakan salah satu anggota dari mereka yaitu berupa cincin yang tersemat disalah satu jemari anggota. Ada angka 33 yang terukir di cincin Peter yang juga menandakan bahwa ia memiliki derajat tertinggi yaitu derajat  tiga puluh tiga. Peter mempunyai seorang adik bernama Katherine Solomon dan seorang ibu yang telah tiada bernama Isabella Solomon. Isabella Solomon sendiri dibunuh oleh orang tak dikenal yang mengaku telah membunuh anak satu-satunya Peter Solomon, Zachary Solomon. Peter sangat menyanyangi anaknya tersebut dan berharap ia dapat meneruskan perjuangannya dalam menjaga rahasia piramida kuno yang selama ini telah dilindungi oleh kelurga Solomon secara turun-temurun. Ia terpaksa menyuruh anaknya memilih antara uang/kekayaan yang dimiliki keluarga Solomon atau kebijaksanaan Mason. Tentu saja, Zachary lebih memilih uang yang secara logikanya terlihat nyata dan tidak membingungkan dengan kebijaksanaan yang terlihat ambigu menurutnya. Peter pun terlihat sedih dengan keputusan yang dibuat anaknya tersebut. Hingga suatu hari ada kabar bahwa anaknya Zachary Solomon meninggal overdosis di penjara. Ia pun sangat terpukul dibuatnya. Jalan cerita pun berlanjut dengan kemunculan orang tak dikenal yang mengaku telah membunuh anak tersayang Peter dan mengobrak-abrik rumah Peter untuk mencari keberadaan piramidakuno yang disembunyikan oleh keluarga Peter. Ia mendengar tentang sejarah kuno piramida itu yang mampu mengubahnya menjadi orang terhebat di dunia. Malam itu di musim dingin ketika keluarga Solomon sedang berkumpul bersama untuk merayakan Natal, Ia muncul dan tanpa sengaja membunuh Isabella Solomon. Sayangnya, ia gagal mendapatkan apa yang ia inginkan saat itu. Kejadian tersebut sangat membekas dalam ingatan dua kelurga Solomon yang tersisa, Peter dan Katherine. Memori tersebut bahkan bisa menjadi memori terburuk yang pernah mereka miliki.

Hingga suatu hari ketika mereka hampir melupakannya, sosok itu muncul kembali dengan penampilan yang berbeda. Namun, wajah mengerikannya masih tetap sama. Sebut saja namanya “Mal’akh”, bukan nama sebenarnya.